Liputan1.com, Kemeriahan puncak Piala Dunia 2026 di Stadion MetLife, New Jersey, Amerika Serikat, pada Senin (20/7/2026), tidak hanya diwarnai oleh aksi memukau para bintang lapangan hijau, tetapi juga oleh kehadiran seorang figur yang tak lekang dari sorotan publik: mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Kehadiran Trump di salah satu ajang olahraga paling bergengsi di dunia ini kembali memicu reaksi beragam dari penonton, mencampurkan antusiasme global dengan sentimen politik yang mendalam.
Dari balik kemegahan Stadion MetLife, yang menjadi saksi bisu pertandingan final krusial, kehadiran Trump terekam jelas oleh kamera dan disiarkan ke layar raksasa (jumbotron). Momen penampilannya di layar tersebut sontak memancing respons yang tidak seragam dari ribuan pasang mata yang memadati stadion. Sejumlah laporan menyebutkan adanya sorakan dan cemoohan yang dialamatkan kepadanya, meskipun ada pula segelintir pendukung yang menyambutnya dengan tepuk tangan.
Menurut laporan dari kantor berita AFP, reaksi negatif yang diterima Trump pada kesempatan ini dinilai lebih moderat dibandingkan dengan insiden serupa di acara-acara olahraga besar lainnya yang pernah ia hadiri. Fenomena ini bukan kali pertama terjadi, mengingat riwayat kehadiran Trump di berbagai pertandingan profesional kerap kali memecah belah penonton, merefleksikan polarisasi politik yang masih terasa kuat di Amerika Serikat. Kehadirannya di ruang publik seringkali menjadi termometer sentimen masyarakat terhadapnya.
Meskipun demikian, figur berusia 80 tahun ini tampak tidak terpengaruh oleh gelombang cemoohan yang menyertainya. Dengan tenang, ia melanjutkan interaksinya di area VIP. Salah satu momen yang mencuri perhatian adalah ketika Trump berkesempatan menyentuh dan menepuk trofi emas Piala Dunia yang ikonik, sesaat sebelum piala tersebut diserahkan kepada tim pemenang. Gestur ini seolah menunjukkan koneksi personalnya dengan kemegahan acara tersebut, terlepas dari berbagai kontroversi yang melingkupinya.
Di area tempat duduk kehormatan, Donald Trump terlihat duduk berdampingan dengan Presiden FIFA, Gianni Infantino, yang disebut-sebut sebagai teman dekatnya, serta Ibu Negara Melania Trump. Kehadiran Infantino di samping Trump menggarisbawahi jalinan relasi yang terjalin antara mantan pemimpin negara adidaya dengan pucuk pimpinan organisasi sepak bola dunia. Hubungan ini menjadi sorotan, terutama mengingat beberapa intervensi politik Trump dalam dunia sepak bola.
Sebagai bagian dari protokol acara, Trump juga terlihat berdiri tegak dan memberi hormat saat lagu kebangsaan Amerika Serikat berkumandang di seluruh penjuru stadion. Sikap ini menunjukkan kepatuhannya terhadap tradisi seremonial yang lazim dalam acara-acara besar kenegaraan maupun olahraga, sebuah pengingat akan statusnya sebagai mantan kepala negara. Momen tersebut menjadi bagian dari rangkaian upacara pembukaan yang menghormati simbol-simbol nasional.
Sebelum pertandingan yang sangat dinanti-nantikan itu dimulai, Trump sempat membagikan prediksinya tentang jalannya laga. Ia secara terbuka menyatakan keyakinannya bahwa megabintang Argentina, Lionel Messi, akan menjadi faktor penentu kemenangan bagi timnya. "Saya rasa sulit untuk bertaruh melawan Messi," ujarnya, menyoroti kejeniusan dan pengaruh besar kapten Argentina tersebut di kancah sepak bola global. Pernyataan ini menunjukkan apresiasinya terhadap talenta luar biasa Messi.
Dalam kesempatan yang sama, Trump juga menyinggung Presiden Argentina, Javier Milei. Ia menyebut Milei sebagai "teman saya" dan memuji kinerja pemimpin sayap kanan tersebut. Milei sendiri tidak hadir di final karena alasan takhayul, sebuah praktik yang umum di kalangan atlet maupun figur publik di beberapa budaya. Pujian Trump terhadap Milei dapat diartikan sebagai bentuk solidaritas politik antar-pemimpin yang memiliki pandangan serupa.
Namun, kehadiran Trump di Piala Dunia 2026 tidak dapat dilepaskan dari bayang-bayang kontroversi yang sebelumnya telah ia ciptakan di tengah turnamen. Salah satu insiden paling mencolok adalah intervensinya terhadap kartu merah yang diterima penyerang timnas Amerika Serikat, Folarin Balogun. Kejadian ini sontak menjadi perbincangan hangat dan memicu perdebatan luas mengenai etika dan batasan campur tangan politik dalam urusan olahraga.
Insiden ini bermula ketika Balogun, salah satu pilar serangan AS, diganjar kartu merah dalam pertandingan krusial. Keputusan wasit yang berujung pada pengusiran Balogun dari lapangan tentu saja merupakan pukulan berat bagi tim tuan rumah. Dalam konteks normal, keputusan seperti itu bersifat final, meskipun ada mekanisme banding yang sangat ketat dan jarang berhasil untuk mengubah keputusan wasit di lapangan.
Namun, yang membuat kasus Balogun ini begitu unik dan kontroversial adalah adanya intervensi langsung dari Donald Trump. Bagaimana tepatnya intervensi tersebut dilakukan tidak dijelaskan secara rinci, namun hasilnya sangat mengejutkan publik: FIFA, badan pengatur sepak bola dunia, menangguhkan kartu merah yang diterima Balogun. Keputusan ini sontak menimbulkan gelombang kegeraman dan keheranan di kalangan penggemar sepak bola, pengamat, dan media.
Banyak pihak mempertanyakan integritas proses pengambilan keputusan FIFA serta otonomi badan olahraga tersebut dari tekanan politik. Intervensi semacam ini dianggap dapat mengancam prinsip fair play dan netralitas yang menjadi fondasi olahraga. Mengapa seorang kepala negara, atau mantan kepala negara, bisa memiliki pengaruh sedemikian rupa terhadap keputusan teknis dalam pertandingan sepak bola profesional, menjadi pertanyaan besar yang belum terjawab tuntas.
Terlepas dari kontroversi penangguhan kartu merah Balogun, tim nasional Amerika Serikat tetap harus menelan pil pahit kekalahan. Pada tanggal 7 Juli 2026, AS berhadapan dengan Belgia dan harus mengakui keunggulan lawannya setelah kebobolan empat gol tanpa balas. Hasil ini mengakhiri perjalanan Amerika Serikat di Piala Dunia 2026, meskipun Balogun dapat bermain setelah kartu merahnya dibatalkan. Kekalahan telak ini menambah narasi pahit bagi tim tuan rumah.
Kehadiran Donald Trump di final Piala Dunia 2026, dengan segala reaksi dan kontroversinya, menjadi cerminan bagaimana olahraga, terutama pada skala global seperti Piala Dunia, seringkali menjadi arena di mana politik, budaya, dan sentimen publik berinteraksi secara kompleks. Momen ini sekali lagi menunjukkan bahwa figur-figur politik berkaliber tinggi tidak dapat dilepaskan dari citra dan sejarah mereka, bahkan di panggung olahraga terbesar sekalipun.
Sumber: news.detik.com






