Liputan1.com, Depok – Pembangunan infrastruktur perkotaan yang seharusnya meningkatkan kualitas hidup masyarakat, kini justru memicu keresahan di kalangan warga Depok. Proyek pelebaran trotoar di Jalan Pemuda, yang merupakan salah satu arteri penting di kota penyangga Jakarta ini, menuai kritik tajam. Warga setempat mengemukakan kekhawatiran serius bahwa trotoar yang dibangun terlalu lebar telah menyita sebagian besar badan jalan, memperparah kondisi lalu lintas yang memang sudah padat.
Depok, sebagai kota satelit yang terus berkembang pesat, menghadapi tantangan urbanisasi yang kompleks. Lonjakan populasi dan mobilitas penduduk menuntut peningkatan fasilitas publik, termasuk jalur pejalan kaki yang memadai. Proyek-proyek seperti pembangunan trotoar ini merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah untuk menciptakan lingkungan kota yang lebih ramah pejalan kaki dan mendorong penggunaan transportasi publik.
Inisiatif pembangunan trotoar ini diketahui merupakan kelanjutan dari proyek serupa yang sebelumnya telah dilakukan di Jalan Kartini. Ekspansi jalur pedestrian ini bertujuan untuk menghadirkan konektivitas yang lebih baik antarwilayah, sekaligus memberikan ruang yang aman dan nyaman bagi pejalan kaki. Namun, implementasi di lapangan, khususnya di ruas Jalan Pemuda, nampaknya belum sepenuhnya sejalan dengan harapan masyarakat dan kondisi geografis jalan.
Tim Liputan1.com melakukan observasi langsung di Jalan Pemuda, Depok, pada Kamis (6/8/2026), mengamati kondisi proyek yang masih dalam tahap pengerjaan. Terlihat jelas material bangunan seperti bata dan puing-puing masih tersebar di sepanjang lokasi, menambah kesan semrawut di tengah padatnya arus kendaraan. Aktivitas konstruksi ini tak pelak menciptakan hambatan tambahan bagi kelancaran lalu lintas, memperburuk situasi di jalan yang sudah sibuk.
Salah satu titik krusial yang paling terdampak adalah area pertigaan menuju Jalan Margonda, yang selama ini dikenal sebagai simpul kemacetan kronis. Dengan adanya proyek trotoar yang memakan sebagian besar badan jalan, ruas Jalan Pemuda kini terasa jauh lebih sempit dari sebelumnya. Kondisi ini memaksa kendaraan dari dua arah untuk bergantian melintas, seringkali menimbulkan antrean panjang dan perlambatan signifikan yang bukan hanya menghambat laju, tetapi juga memicu potensi gesekan antar pengemudi.

Lebar trotoar yang sedang dalam proses pemasangan bata ini, menurut pengamatan di lapangan, memang menyerupai dimensi trotoar yang telah rampung di Jalan Kartini. Namun, karakteristik Jalan Pemuda yang relatif lebih sempit dibandingkan Kartini, membuat dimensi trotoar tersebut terasa berlebihan dan tidak proporsional. Ruang yang tersisa untuk pergerakan kendaraan menjadi sangat terbatas, menyisakan jalur yang hanya cukup untuk satu lajur kendaraan bergerak leluasa, terutama bagi kendaraan roda empat.
Damar (41), salah seorang warga yang ditemui di lokasi, mengungkapkan kekecewaannya yang mendalam terhadap proyek ini. Ia menyoroti bahwa Jalan Pemuda sudah sering dilanda kemacetan parah bahkan sebelum proyek dimulai, dan kini situasinya semakin diperparah. "Aduh gimana ya, ini kan udah macet nih. Dibikin kecil lagi sama trotoar, ya jadi makin sempit," keluhnya, menggambarkan frustrasinya atas situasi yang memburuk dan berdampak langsung pada aktivitas hariannya.
Baginya, penambahan lebar trotoar tanpa mempertimbangkan kapasitas jalan yang ada justru kontraproduktif dan tidak menyelesaikan akar masalah. "Ya ini kan sering macet, kalo ditambah lagi begini ya panjang urusannya, macetnya. Kecilin lah, ini kelebaran," imbuhnya, menyoroti dampak domino kemacetan yang diperkirakan akan semakin mengular, memakan waktu perjalanan lebih lama dan memicu stres di jalan. Keluhan Damar ini merefleksikan kegelisahan banyak pengendara dan warga sekitar yang merasakan langsung dampaknya setiap hari.
Sentimen serupa juga disampaikan oleh Meli (35), warga lain yang juga mempertanyakan urgensi dan desain proyek ini. Ia mendesak pemerintah daerah untuk meninjau ulang desain dan implementasi proyek, dengan harapan ada solusi yang lebih berpihak pada kelancaran lalu lintas. "Dilihat dulu pemerintah ke sini, ya Pak Wali. Ini lebar banget, Pak, coba tinjau lagi. Jalan jadi sempit bisa liat sendiri ini," ujarnya dengan nada berharap adanya respons dan tindakan nyata dari pihak berwenang.
Permintaan Meli ini bukan sekadar keluhan pribadi, melainkan sebuah seruan bagi Wali Kota Depok dan jajaran pemerintah untuk turun langsung meninjau kondisi lapangan. Ia menekankan pentingnya evaluasi ulang terhadap kebijakan tata ruang yang berdampak langsung pada mobilitas warga. Harapan agar ada penyesuaian desain demi kepentingan umum, atau setidaknya peninjauan terhadap lebar trotoar yang ada, menjadi inti dari aspirasi yang disampaikannya.
Persoalan yang muncul di Jalan Pemuda ini menggambarkan dilema klasik dalam perencanaan kota yang kerap terjadi di banyak kota berkembang. Harmonisasi antara visi pembangunan kota yang modern dan kebutuhan praktis warga sehari-hari menjadi sebuah ujian. Di satu sisi, pemerintah berupaya memenuhi standar kota modern dengan fasilitas pejalan kaki yang representatif dan nyaman.

Di sisi lain, adaptasi desain terhadap kondisi eksisting jalan dan karakteristik lalu lintas lokal menjadi kunci agar proyek tidak menimbulkan masalah baru yang lebih kompleks. Tanpa penyesuaian yang cermat, proyek yang dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas hidup justru dapat menghadirkan tantangan baru yang mengganggu kenyamanan publik.
Idealnya, pelebaran trotoar bertujuan untuk meningkatkan keamanan dan kenyamanan pejalan kaki, sekaligus mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi serta memfasilitasi akses bagi penyandang disabilitas, sejalan dengan prinsip kota inklusif. Namun, implementasi harus dilakukan dengan cermat, mempertimbangkan keseimbangan antara kebutuhan pejalan kaki dan kelancaran arus kendaraan yang sudah ada. Studi dampak lalu lintas yang komprehensif sebelum dan selama proyek menjadi esensial untuk menghindari dampak negatif.
Konsep kota layak huni seringkali mengedepankan aspek walkability atau kemudahan untuk berjalan kaki. Trotoar yang lebar, aman, dan aksesibel adalah elemen penting dalam mewujudkan visi tersebut, mendukung gaya hidup sehat dan mengurangi polusi. Namun, jika implementasinya justru memicu kemacetan parah dan membebani mobilitas warga, tujuan mulia tersebut berisiko tergerus oleh ketidakpuasan publik dan masalah operasional yang berkepanjangan.
Merespons keluhan warga, transparansi dalam perencanaan dan pelaksanaan proyek menjadi sangat vital. Dialog terbuka antara pemerintah, perencana kota, dan masyarakat pengguna jalan dapat menjadi jembatan untuk mencari solusi terbaik yang mengakomodasi berbagai kepentingan. Peninjauan ulang terhadap desain trotoar di Jalan Pemuda, mungkin dengan opsi penyesuaian lebar atau rekayasa lalu lintas yang lebih efektif, bisa menjadi langkah konkret yang diharapkan.
Hingga laporan ini disusun, pengerjaan proyek trotoar di Jalan Pemuda masih terus berlangsung, dengan segala dampak yang menyertainya terhadap lalu lintas dan kenyamanan warga. Bola panas kini berada di tangan pemerintah kota untuk menanggapi aspirasi warganya yang semakin mendesak. Apakah akan ada penyesuaian desain atau solusi alternatif untuk meredakan kemacetan dan mengembalikan fungsi jalan secara optimal, menjadi pertanyaan yang dinantikan jawabannya oleh masyarakat Depok.
Sumber: news.detik.com






