News  

Presiden Israel Ingin Berdamai dengan Arab Saudi: ‘It’s My Dream’

Avatar of Liputan1

"Impian saya adalah melihat perdamaian antara Israel dan Arab Saudi," ujar Herzog kepada Al Arabiya, menyoroti cita-cita yang telah lama menjadi ambisi diplomatik Israel. Ia juga tidak segan menyatakan kekagumannya terhadap Putra Mahkota Mohammed Bin Salman, pemimpin de facto Kerajaan Saudi, yang mengindikasikan adanya dasar untuk dialog tingkat tinggi. Wawancara tersebut, yang direkam di Yerusalem dan disiarkan pada Kamis (16/7) waktu setempat, segera menjadi sorotan media internasional.

Presiden Herzog menekankan bahwa rekonsiliasi antara kedua negara merupakan "hal yang paling kami inginkan di Israel." Ungkapan ini merefleksikan keinginan kuat di kalangan kepemimpinan Israel untuk memperluas lingkup perjanjian perdamaian yang telah mereka capai dengan negara-negara Arab lainnya. Pesan ini bukan sekadar retorika, melainkan sebuah sinyal politik yang penting di tengah dinamika geopolitik kawasan yang terus bergejolak.

Dalam kesempatan tersebut, Herzog juga secara eksplisit memuji keberhasilan Kesepakatan Abraham, yang telah membuka jalan bagi normalisasi hubungan Israel dengan Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Maroko. Ia menyebut perjanjian-perjanjian ini sebagai model kerja sama regional yang berhasil, menunjukkan potensi besar untuk kemajuan serupa dengan negara-negara Arab lainnya. Keberhasilan Kesepakatan Abraham telah membuktikan bahwa perdamaian dan kerja sama dapat dicapai, bahkan di antara pihak-pihak yang sebelumnya memiliki hubungan yang tegang.

Namun, Herzog menegaskan bahwa Arab Saudi memegang posisi yang unik dan sangat krusial dalam peta politik dan religius Timur Tengah. Ia menyebut Kerajaan itu sebagai "negara yang sangat penting" dan "pemimpin utama di dunia Muslim." Pengakuan ini menggarisbawahi pemahaman Israel tentang pengaruh besar Arab Saudi, baik sebagai penjaga dua kota suci umat Islam maupun sebagai kekuatan ekonomi dan politik yang tak terbantahkan di kawasan. Oleh karena itu, langkah menuju perdamaian dengan Riyadh dipandang memiliki bobot yang jauh lebih besar dan dampak yang lebih luas dibandingkan kesepakatan-kesepakatan sebelumnya.

Mengenai proses ke depan, Herzog menyatakan bahwa normalisasi di masa mendatang harus ditangani secara langsung oleh kedua negara, namun dengan dukungan kuat dari Amerika Serikat. Keterlibatan Washington dianggap vital, mengingat peran historisnya sebagai mediator di Timur Tengah dan pengaruhnya terhadap para aktor regional. Dukungan AS dapat memberikan kerangka kerja yang diperlukan serta insentif diplomatik untuk mendorong tercapainya kesepakatan yang kompleks.

Upaya menuju normalisasi antara Israel dan Arab Saudi bukanlah hal baru. Sebelumnya, pada tahun 2023, dilaporkan bahwa Arab Saudi terlibat dalam pembicaraan awal yang bersifat tentatif mengenai kemungkinan pengakuan terhadap Israel. Pembicaraan ini menandai sebuah momen bersejarah, karena untuk pertama kalinya Arab Saudi secara serius mempertimbangkan langkah tersebut, meskipun dengan prasyarat tertentu. Namun, momentum positif ini terhenti secara drastis dan tiba-tiba ketika konflik bersenjata pecah di Gaza, mengubah secara fundamental lanskap politik dan prioritas regional.

Konflik di Gaza tersebut telah menyebabkan dampak kemanusiaan yang sangat parah dan memicu gelombang kecaman internasional. Menurut kementerian kesehatan Gaza, yang beroperasi di bawah otoritas Hamas dan angkanya dianggap dapat diandalkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, lebih dari 70.000 warga Palestina telah kehilangan nyawa akibat perang tersebut. Angka ini mencerminkan skala kehancuran dan penderitaan yang meluas, yang secara langsung mempengaruhi sentimen publik di seluruh dunia Arab dan Muslim, termasuk di Arab Saudi.

Penderitaan di Gaza secara signifikan memperumit upaya diplomatik menuju normalisasi. Para pejabat Saudi telah berulang kali menegaskan bahwa mereka tidak akan mengakui Israel tanpa adanya jalur yang jelas dan konkret menuju pembentukan negara Palestina merdeka. Ini adalah prasyarat fundamental yang telah lama menjadi inti kebijakan luar negeri Saudi dan sebagian besar negara Arab lainnya. Permintaan ini berakar pada komitmen historis terhadap hak-hak Palestina dan dianggap sebagai kunci untuk stabilitas regional yang berkelanjutan.

Namun, posisi ini berbenturan langsung dengan sikap pemerintah Israel saat ini, yang secara keras menentang pembentukan negara Palestina merdeka. Perbedaan mendasar ini menjadi rintangan utama yang harus diatasi jika impian perdamaian Presiden Herzog ingin terwujud. Konflik ideologi dan politik ini menyoroti kompleksitas yang melekat dalam mencapai kesepakatan yang komprehensif di salah satu wilayah paling bergejolak di dunia.

Dengan demikian, pernyataan Herzog, meskipun penuh harapan, juga mengingatkan pada tantangan besar yang masih membentang di depan. Meskipun ada keinginan kuat dari pihak Israel dan potensi keuntungan strategis bagi kedua belah pihak, jalan menuju perdamaian dan normalisasi penuh dengan rintangan diplomatik, politik, dan kemanusiaan yang signifikan. Masa depan hubungan Israel-Saudi akan sangat bergantung pada kemampuan para pemimpin untuk menavigasi kompleksitas ini, mencari titik temu, dan membangun kepercayaan di tengah ketidakpastian yang masih melingkupi kawasan.

Sumber: news.detik.com