Bersin setiap pagi, hidung tersumbat, batuk malam hari, atau napas berbunyi sering dianggap sebagai satu masalah: alergi. Padahal, keluhan tersebut bisa berasal dari kondisi yang berbeda. Dua di antaranya adalah asma dan alergi saluran napas, terutama rinitis alergi.
Memahami asma vs alergi saluran napas penting karena obat untuk meredakan bersin belum tentu membantu penyempitan saluran napas. Sebaliknya, inhaler asma tidak otomatis mengatasi hidung gatal. Keduanya juga dapat terjadi bersamaan sehingga perlu dinilai secara menyeluruh.
Apa Itu Asma dan Alergi Saluran Napas?
Asma: peradangan dengan penyempitan saluran napas yang berubah-ubah
Asma adalah penyakit kronis yang melibatkan peradangan dan peningkatan kepekaan saluran napas di paru-paru. Pada orang dengan asma, saluran napas dapat menyempit akibat kontraksi otot, pembengkakan dinding, dan peningkatan lendir. Akibatnya, aliran udara terganggu dan bernapas terasa lebih sulit.
Gejalanya dapat datang dan pergi, dengan tingkat keparahan yang berubah. Asma bisa dipicu oleh alergen, tetapi juga oleh infeksi virus, asap rokok, udara dingin, atau aktivitas fisik. Jadi, tidak semua asma disebabkan oleh alergi.
Alergi saluran napas: respons imun terhadap zat tertentu
Alergi terjadi ketika sistem kekebalan bereaksi terhadap zat yang biasanya tidak berbahaya, seperti tungau debu rumah, serbuk sari, jamur, atau serpihan kulit hewan. Zat pemicu ini disebut alergen.
Istilah alergi saluran napas cukup luas. Dalam pembahasan sehari-hari, istilah ini sering merujuk pada rinitis alergi, yaitu peradangan alergi pada lapisan hidung. Namun, alergi juga dapat memengaruhi saluran napas bawah dan memicu asma alergik. Karena itu, asma dan alergi bukan dua kategori yang sepenuhnya terpisah.
Perbedaan Gejala yang Perlu Dikenali
Petunjuk utamanya adalah lokasi dan pola keluhan, meskipun gejala saja belum cukup untuk memastikan diagnosis.
- Rinitis alergi: bersin berulang, hidung gatal, pilek encer, dan hidung tersumbat. Mata dapat ikut gatal atau berair.
- Asma: sesak napas, dada terasa berat atau tertekan, mengi atau bunyi seperti siulan saat bernapas, serta batuk yang berulang.
- Pola rinitis alergi: keluhan sering muncul setelah paparan alergen, misalnya saat membersihkan kamar atau berada dekat hewan tertentu.
- Pola asma: keluhan sering berubah-ubah, memburuk pada malam atau dini hari, serta muncul saat berolahraga, terkena udara dingin, atau mengalami infeksi saluran napas.
Rinitis alergi biasanya tidak menyebabkan demam. Namun, pilek dan batuk juga dapat disebabkan oleh infeksi atau kondisi lain. Batuk akibat lendir dari hidung yang mengalir ke tenggorokan dapat menyerupai keluhan asma. Sebaliknya, sebagian orang dengan asma mengalami batuk tanpa mengi yang jelas. Tidak adanya mengi bukan berarti asma pasti tidak ada.
Mengapa Keduanya Sering Muncul Bersamaan?
Hidung dan paru-paru merupakan bagian dari satu sistem saluran napas yang saling berkaitan. Pada orang yang memiliki kecenderungan alergi, peradangan dapat terjadi di saluran napas atas maupun bawah. Inilah sebabnya rinitis alergi cukup sering ditemukan pada penderita asma.
Meski demikian, memiliki rinitis alergi tidak berarti seseorang pasti mengalami asma. Mengatasi keluhan hidung dapat membantu kualitas tidur dan mendukung pengendalian gejala pernapasan, tetapi tidak menggantikan pengobatan asma jika asma memang ada.
Bagaimana Dokter Membedakannya?
Dokter akan menanyakan jenis gejala, waktu kemunculannya, pemicu, riwayat alergi, serta riwayat penyakit dalam keluarga. Pemeriksaan fisik membantu menilai hidung dan paru-paru, tetapi hasilnya bisa tampak normal ketika gejala sedang tidak muncul.
Untuk menilai kemungkinan asma, dokter dapat melakukan spirometri, yaitu pemeriksaan fungsi paru, termasuk membandingkan hasil sebelum dan sesudah pemberian obat pelebar saluran napas. Jika hasil awal belum mendukung tetapi kecurigaan tetap kuat, pemeriksaan dapat diulang atau dilengkapi pemantauan aliran napas sesuai kebutuhan.
Tes alergi, seperti tes tusuk kulit atau pemeriksaan IgE spesifik, dapat membantu mengidentifikasi pemicu tertentu. Namun, hasil positif perlu dicocokkan dengan riwayat gejala: hasil tersebut tidak otomatis membuktikan bahwa alergen itulah penyebab semua keluhan, dan tidak cukup untuk mendiagnosis asma.
Penanganannya Berbeda, tetapi Bisa Saling Melengkapi
Untuk rinitis alergi
Penanganan dapat meliputi pengurangan paparan alergen yang relevan, antihistamin, serta semprotan hidung kortikosteroid sesuai penilaian dokter. Bilas hidung dengan larutan saline juga dapat membantu; gunakan air steril, air distilasi, atau air yang telah direbus lalu didinginkan.
Untuk asma
Terapi asma umumnya melibatkan obat hirup yang mengandung kortikosteroid untuk mengendalikan peradangan, dengan pilihan obat pereda sesuai usia, tingkat gejala, dan rencana terapi. Mengandalkan obat pelega saja tanpa menilai kebutuhan pengendali dapat meningkatkan risiko serangan. Teknik penggunaan inhaler dan kepatuhan juga perlu diperiksa.
Antihistamin bukan obat untuk menghentikan serangan asma. Jangan mengganti inhaler dengan obat alergi atau menghentikan pengobatan sendiri hanya karena gejala membaik. Bila kedua kondisi muncul bersama, keduanya perlu ditangani.
Langkah Praktis dan Tanda Bahaya
- Catat gejala, waktu kemunculan, kemungkinan pemicu, dan respons terhadap obat untuk dibahas saat konsultasi.
- Hindari asap rokok dan vape, serta kurangi paparan alergen yang memang berkaitan dengan keluhan.
- Tetap aktif secara fisik dengan pengendalian asma yang baik; diskusikan keluhan saat olahraga, bukan langsung menghindari semua aktivitas.
- Jika memiliki asma, minta rencana tindakan tertulis, termasuk langkah saat gejala memburuk.
Segera cari pertolongan darurat jika sesak berat, sulit berbicara dalam kalimat, bibir tampak kebiruan atau keabu-abuan, mengantuk atau kebingungan, atau obat pereda yang diresepkan tidak membantu. Jangan menunggu seluruh tanda tersebut muncul.
Intinya, rinitis alergi terutama menimbulkan keluhan hidung, sedangkan asma memengaruhi saluran napas di paru-paru. Mengenali perbedaan sekaligus keterkaitannya membantu Anda mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan yang tepat, bukan sekadar menutupi gejala.






